Pare lebih di kenal sebagai tempat beradanya kampung inggris. Kampung inggris ini tepatnya berada di desa Tulungrejo, Pare, Kediri. Disini terdapat berbagai macam tempat kursus bahasa inggris, mungkin lebih dari 20 tempat. Program yang di tawarkan oleh setiap tempat kursus cukup bervariasi, antara lain grammar, speaking, pronunciation, translation, writing dan TOEFL.
Jadi sebelum memutuskan ingin memilih tempat kursus, alangkah baiknya dipilih dulu apakah grammar, speaking pronunciation, translation, writing, TOEFL yang menjadi tujuan belajar di Pare.
Tempat Kursus & Program
1. Program grammar
Ada beberapa tempat yang genrenya adalah grammar, antara lain Elfast, Smart, Kresna, Mahesa, dll. Di tempat ini kita bisa mengenal grammar dari nol. Part of speech, tenses, seven summaries alias konsep 2 kejadian, modals, clausa, comparison degree, gerund, dll.
2. Program speaking
Daffodil, Access, Webster, Ocean, Mahesa, Harvard, Marvelous, adalah beberapa tempat kursus yang menyediakan program speaking. Di kelas speaking yang biasa dilakukan antara lain diskusi, debat, presentasi, mendengarkan lagu, games, dll. Jangan kuatir bagi yang belum PD ngomong bahasa inggris karena yang penting di kelas speaking adalah berani ngomong, masalah grammar bisa diatur.
3. Program pronunciation
Program ini bisa disebut juga program senam mulut, karena yang dipelajari disini tentang bagaimana cara ngomong orang bule ngomong. Kita juga diberi tahu tentang bagaimana cara membaca kamus beserta tanda bacanya. Jadi, kalo di Pare rugi kalo tidak mengambil kelas pronunciation. Kelas pronunciation disediakan oleh Daffodil, Access, Marvelous, Smart, Ocean.
4. TOEFL
Jika ingin masuk kelas TOEFL alangkah baiknya grammar kita sudah mantap. Jadi saat di kelas kita tak lagi mengalami kesulitan tentang clausa, gerund, part of speech, dll. Di kelas TOEFL ada 3 hal penting yang dibahas yaitu structure and written, listening dan reading. Kelas TOEFL ada di Elfast, Smart, Kresna, Mahesa, dll.
Tempat Kursus
Hampir semua tempat kursus di Pare memulai perogramnya setiap tanggal 10 dan 25. Jadi jika hendak mengambil kursus disini sebaiknya datang sebelum tangggal-tanggal tersebut. Kelas yang di tawarkan ada yang per satu bulan atau per dua minggu. Ruang kelasnya tidak seperti di ELTI atau LIA, karena kebanyakan kelasnya lesehan seperti kita ngaji di TPA. Kelas pada umumnya berdurasi 90 menit. Biasanya dimulai jam 7 pagi, tapi ada juga yang memulai program jam 5.30. Tinggal pilih saja.
Biaya program sanggat bervariasi. Dari yang 20 rb sampai 150 rb per program. Ada juga tempat kursus yang menyediakan asrama (camp) bagi siswanya. Kalo dihitung-hitung termasuk murah karena selain dapat tempat tinggal, bebas biaya program kita juga tinggal di English Area.
Tempat tinggal
Ada dua pilihan untuk tinggal disini yaitu kos biasa atau asrama (camp). Kalo kos ya seperti kos pada umumnya. Camp dalam arti English Area adalah kos yang meyediakan fasilitas English Area dimana para penghuninya diwajibkan ngomong pakai bahasa inggris. Baik mau makan, di kamar mandi, nonton TV, pokoknya segala aktivitas di kos harus pakai bahasa inggris. Fasilitas lain di camp adalah program setelah subuh, biasanya menghafalkan vocabularies, sedangkan program setelah magrib biasanya debat, diskusi, nonton film, tergantung dari campnya. Bagi yang pengen speakingnya lebih lancar, tinggal di camp bisa menjadi pilihan.
Biaya hidup disini standar, sekali makan rata-rata 4 ribu rupiah (nasi+sayur+telur+ es teh). Sediakan bugjet juga untuk membeli buku, khususnya referensi dan kamus, karena buku-buku yang tersedia disini sangat membantu kita dalam belajar.
Tak perlu kuatir terisolasi dari peradaban, karena sini terdapat toko buku, warnet, rental komputer, rental komik, bioskop mini. Hanya satu yang tidak tersedia yaitu mall. Kalo ingin ke mall ya musti pergi ke kota Kediri atau ke Malang.
Jadi tak perlu bingung lagi ketika hendak memutuskan belajar bahasa inggris di Pare. Karena di Pare, di kampung inggris, adalah tempat paling kondusif untuk belajar bahasa inggris. Tabik!
Pagi ini saya menjaga Ujian Akhir Semester (UAS) di MAN Maguwoharjo. Sungguh nikmat menjadi pengawas ujian. Menikmati wajah-wajah siswa yang mencuri-curi pandang jawaban kawan lainnya. Dari dua kali mengawas, ada metode yang tidak berubah saat siswa hendak beraksi. Satu hal yang pasti, sebelum mereka melirik, menoleh, ataupun mengintip, mereka pasti melihat pengawas–tengah siap atau lengah.
Jadi inget sekian tahun silam. Sayapun bertindak demikian. Mungkin lebih seru ketimbang yang mereka lakukan pagi tadi. Memang mencontek itu butuh strategi. Rumus yang harus dimiliki adalah jangan banyak menimbulkan kegaduhan dan bertindaklah secara cepat dan sitematis. namun jangan pandang remeh waktu. Harus bisa membaca situasi.
Yah, mencontek merupakan kenakalan yang menyenangkan (pada saat itu)….
Jauh sebelum fajar, seorang laki-laki bersayap berdiri di sisiku. Duh gusti, kaget aku. Sayapnya menggores mukenaku, saat hendak salam. Wah nggriseni tenan. “Kamu akan mati tanggal xx:xx:xx” katanya. “APPPAAAAAAAA….” teriakku.
“Jangan teriak macam itu. Kaget tauk” katanya. “Kamu tuh yang bikin kaget. Cowok dilarang masuk kamar kos cewek. Ga permisi, bikin kaget, kasih kabar aneh dan satu lagi kostummu itu lho, nggak banget.” jawabku.
“Walah mbak yang satu ini kok riwil. Dikasih tau kok malah ga mau. Itu sudah ditetapkan, mbak. Saya memang bertugas mengingatkan orang-orang seperti mbak ini.” Apa maksudnya —orang—orang—seperti— mbak —itu? Tanyaku. “Eem, maaf itu rahasia. Saya cuma disuruh atasan saya seperti itu” balasnya.
“Nggaak mauuuuu. Aku belum lulus akta, aku belum jadi guru, aku belum dapet kerja, aku belum kawin, aku belum punya anak. Emohhh. Bisa ditawar ga?” tanyaku mangkel. “Oh bisa mbak. Sebelum-sebelum mbak juga pada nawar.”
MAKSUD LOE…
“Iya mbak, mereka pada nawar. Ama atasan saya di bolehin tapi ada syaratnya.” “Apa tuh syaratnya” tanyaku polos. “Macem-macem mbak. Tapi tiap orang punya syarat sendiri-sendiri. Tapi sori mbak saya ga boleh kasih tau.”
“Klo mbak ga mau mati di tanggal itu ada caranya. Ga usah ketik REG spasi. Atasan saya tahu yang mbak inginkan. Pesen dari atasan saya, mbak harus bikin tulisan dengan tema ‘kenapa saya tidak mau mati di tanggal xx’. Sertakan juga jaminan mbak ga bakal neko-neko sesuai versi mbak. Sebab klo mbak melanggar syarat mbak sendiri, di setiap harinya mbak bakal melihat hitungan mundur tanggal kematian mbak. Entah dalam bentuk apa. Kemaren saya melihat ada angka lima di jidat seorang laki-laki yang pacarnya ngeyel ama atasan saya.”
“Sudah paham mbak? Tulisannya cukup 1000 kata saja. Lalu diprint. Tiap kali mbak melanggar, kertas itu akan mematuk mbak. Oke ya mbak, saya cabut dulu. Silahkan merem mbak.” Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku iya aja.
Pagi-pagi aku bangun. Siap-siap mo kuliah. Saat di kelas kulihat angka 100 di dinding kelas. Matek aku. Aku belum nulis….
Seminggu yang lalu, sebuah surat kabar nasional menyampaikan tentang ‘pengangguran terdidik”. Sebanyak 4,5 juta orang bo’. Walah, walah. Saya menjadi salah seorang didalamnya.
Kemudian saya mencoba menelaah kembali (dengan bertanya dengan teman-teman), kenapa sih saya bersama teman-teman yang lain tak kunjung mendapat pekerjaan impian. Ini adalah beberapa alasannya:
1. Tidak ada peluang kerja yang sesuai dengan.
2. Kurangnya soft skills alias ketrampilan dan pengalaman
3. Gengsi kalo ga dapat kerja sesuai dengan gelar
4. Tidak berani ambil resiko untuk berbisnis.
5. Belum atau ga punya channel.
Jadi, buat kita-kita yang masih nganggur, yuk coba review diri masing-masing….
Sabtu pagi aku melihat sesosok pria terperangkap pada sepotong kebaya oranye serta jariknya. Wajahnya benar-benar laki-laki. Tidak bisa dikatakan ayu meski dia berbedak tebal dan bergincu merah. Dia cenderung gagah. Menanti senja di salah satu sudut UGM, aku juga melihat mas-mas yang juga terperangkap di legging, rok mini serta t-shirt yang lumayan mepet. Dia sungguh kemayu.
Menurut pendapatku, Gen egois memang sudah ada di dalam tubuh sebelum manusia lahir di dunia. Dia memang egois karena ingin narsis. Ada cara jitu untuk membuat mereka- Gen Egois, bisa dikendalikan. Yaitu melawan dengan sekuat tenaga serangan-serangan mereka. “Kitalah satu-satunya dibumi yang bisa memberontak terhadap replikator egois” kata Dawkins pada kalimat akhir dibukunya.
Bagiku mereka-mereka yang tengah terperangkap ditubuhnya sendiri, telah memberi ruang dan kesempatan pada gen-gen egois. Lagi-lagi ini persoalan pilihan. Mau bertempur mati-matian atau tidak. Itu saja.
Hari ini aku sudah khatam satu buku lho. Judulnya De Winst Karya Afifah Afra. Setting cerita pada buku ini di Solo, pas taon-taon penuh gejolak nasionalisme, sebelum Indonesia merdeka. Seru. Jadi teringat Minke di Bumi Manusia. Tokoh-tokohnya antara lain Rangga, Kareen, Sekar, Kresna, Pratiwi dan Jatmiko. Rangga adalah seseorang yang terkesan kurang tegas dengan perasaannya sendiri. Sekar begitu temehek-mehek dengan Jatmiko (khas aktivis banget) dan Pratiwi yang terperangkap cinta buta. Awalnya aku menganggap Rangga itu syalala (syangat laki-laki-red.). Tapi, tapi, di endingnya itu loh. Kurang nendang. Ga syalala lagi deh.
Pelajaran moral yang bisa diambil adalah semangat nasionalisme yang demikian menggebu (halahh…). Lumayan dapat tambahan ilmu tentang kapitalisme, imperialisme, komunisme dan hal-hal yang ndaki-ndaki lainnya.
Yen tak pikir-pikir kita tuh belum merdeka je. Lha yang njajah sekarang wae konco dewe.
Terkadang tak sengaja kita membunuh karakter seseorang. Menghina mencela, melecehkan dan lain sebagainya. Efek hal itu sungguh mengerikan. Bagaimana kalau hari ini karakter kita yang dibunuh?
Hati jadi ciut, seolah diri ini tak memiliki arti sama sekali. Solusinya jika orang lain mulai “menampakkan taringnya” untuk membunuh (karakter) kita, waspadalah! Emosi jangan terpancing, plus dalam hati kita berkata”Okey, akan ku tunjukkan kalau aku tak seperti yang engkau bilang…”
Mulai banyak orang yang seenaknya sendiri. Pakai baju sekenanya, tidak menghormati orang yang melihatnya, pake baju ga sesuai size tubuh, lain-lain deh. Tak sedikit yang seenaknya naik kendaraan. Emangnya dirimu saja yang terburu-buru. Apa susahnya sih memberi tanda saat membelok.
Mari hidup yang baik, karena hidup yang tidak menyulitkan orang lain sungguh menyenangkan.
Ekspresi mau (di) pindah ke SC (Student Center) dalam waktu dekat ini. Wah wah wah, rumah cinta takkan lagi sama. Dengan ruangan berpetak semoga tak membuat teman-teman terkotak-kotak juga. Jangan malas ke ekspresi kawan. Tanpa kehadiran kalian bisa jadi ekspresi tak lagi jadi rumah cinta….